Tamanu, Nyamplung, dan Calophyllum inophyllum: Mengapa Satu Tanaman Memiliki Banyak Nama?

Author name: Marisa Choiriyah

Pernahkah Anda bertanya mengapa satu tanaman dapat memiliki begitu banyak nama?

Tanaman yang dikenal luas dalam konteks industri bahan alami dan perawatan kulit sebagai Tamanu memiliki berbagai nama di berbagai wilayah. Di Indonesia, tanaman ini dikenal sebagai nyamplung, sementara dalam botani tanaman ini memiliki nama ilmiah Calophyllum inophyllum L. [1][2]

Perbedaan nama tersebut bukan berarti tanaman yang berbeda. Sebaliknya, banyaknya nama mencerminkan bagaimana satu spesies dikenal oleh masyarakat yang berbeda berdasarkan bahasa, wilayah, sejarah, dan pemanfaatannya.

Apa Nama Ilmiah Tamanu?

Secara botani, tanaman yang dikenal sebagai Tamanu atau nyamplung tersebut adalah Calophyllum inophyllum L.

Menurut Royal Botanic Gardens, Kew, Calophyllum inophyllum merupakan spesies yang diterima secara ilmiah (accepted species) dari famili Calophyllaceae. Kew mencatat persebaran alaminya mulai dari Kenya dan Mozambik, kawasan Samudra Hindia bagian barat, Asia tropis dan subtropis hingga Pasifik. [1]

Kew juga mencatat keberadaan alaminya di berbagai wilayah, termasuk Jawa, Sumatra, Maluku, Sulawesi, India, Sri Lanka, Filipina, Fiji, Hawaii, Samoa, Tonga, Vanuatu, dan sejumlah wilayah lainnya. [1]

Persebaran yang luas tersebut membantu menjelaskan mengapa tanaman ini memiliki begitu banyak nama lokal.

Nama ilmiah memiliki fungsi penting dalam ilmu botani karena nama lokal dapat berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dengan menggunakan nama Calophyllum inophyllum, kita dapat merujuk secara lebih spesifik pada spesies tanaman yang dimaksud.

Apa Nama Calophyllum inophyllum di Indonesia?

Di Indonesia, Calophyllum inophyllum dikenal dengan beberapa nama lokal.

Salah satu nama yang paling dikenal adalah nyamplung. Database PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) mencatat nyamplung sebagai nama yang digunakan di Jawa, sementara dingkaran digunakan di Sulawesi. [2]

Sementara itu, FAO mencatat sejumlah nama lokal lainnya, termasuk nyamplung, benaga, bintangur laut, menaga, naga, punaga, calpong, dan dingkaran dalam konteks berbagai wilayah dan bahasa di Asia Tenggara. [3]

Sumber dari NParks Singapore juga mencantumkan Calophyllum inophyllum dengan sejumlah nama umum, antara lain Penaga Laut, Bintangor Laut, Borneo Mahogany, Alexandrian Laurel, Indian Laurel, Beauty Leaf, Nyamplung, dan Penaga. [4]

Keragaman nama tersebut menunjukkan bahwa satu spesies dapat memperoleh sebutan berbeda sesuai dengan wilayah dan komunitas yang mengenalnya.

Lalu, dari Mana Nama “Tamanu”?

Di sinilah kita perlu berhati-hati dalam menjelaskan asal-usul nama.

Tamanu merupakan salah satu nama umum yang digunakan untuk Calophyllum inophyllum di sejumlah wilayah Pasifik. Literatur ilmiah mengenai Calophyllum inophyllum mencatat penggunaan nama Tamanu di Cook Islands, Society Islands, dan Tahiti. Literatur yang sama juga mencatat nama lain seperti Dilo di Fiji, Fetau di Samoa, dan Kamani/Kamanu di Hawaii. [5]

Dengan demikian, Tamanu sebaiknya dipahami sebagai nama umum atau nama regional, bukan sebagai nama ilmiah.

Nama ilmiah tanaman tersebut tetap Calophyllum inophyllum L.

Hal ini penting karena tanaman dengan persebaran geografis yang sangat luas dapat memiliki banyak nama lokal. PROSEA, misalnya, mencatat Alexandrian laurel dan Borneo mahogany dalam bahasa Inggris, nyamplung di Jawa, dingkaran di Sulawesi, bintangor laut dan penaga di Malaysia, serta beach calophyllum di Papua Nugini. [2]

Karena itu, lebih tepat untuk mengatakan bahwa “Tamanu” adalah salah satu nama umum yang digunakan untuk Calophyllum inophyllum di beberapa wilayah, terutama dalam konteks Pasifik, daripada menyatakan secara mutlak bahwa istilah tersebut berasal dari satu bahasa atau satu negara tertentu.

Berbagai Nama untuk Calophyllum inophyllum

Berikut beberapa nama yang terdokumentasi dalam sumber botani, kehutanan, dan literatur ilmiah:

NamaWilayah/Konteks
TamanuDigunakan di sejumlah wilayah Pasifik, termasuk Tahiti dan Cook Islands [5]
NyamplungIndonesia, termasuk Jawa [2]
DingkaranSulawesi, Indonesia [2]
Bintangor Laut / Penaga LautMalaysia [2][4]
Alexandrian LaurelNama umum dalam bahasa Inggris [2][4]
Indian LaurelNama umum yang tercatat oleh NParks [4]
Beauty LeafNama umum yang tercatat dalam sumber botani [4]
DiloFiji [5]
FetauSamoa [5]
Kamani / KamanuHawaii [5]
Beach CalophyllumPapua Nugini [2]

Daftar tersebut hanyalah sebagian dari nama yang digunakan untuk spesies ini.

Menariknya, istilah “beach calophyllum” juga digunakan dalam konteks Papua Nugini, sedangkan Alexandrian laurel dan Borneo mahogany tercatat sebagai nama umum berbahasa Inggris dalam database PROSEA. [2]

Mengapa “Calophyllum” Berarti “Beautiful Leaf”?

Selain memiliki banyak nama lokal, nama ilmiah genus Calophyllum sendiri memiliki cerita yang menarik.

FAO menjelaskan bahwa daun Calophyllum inophyllum memiliki banyak urat lateral yang halus dan tersusun hampir sejajar. Karakteristik tersebut berkaitan dengan nama ilmiahnya: “calophyllum” yang berarti “beautiful leaf” atau “daun yang indah.” [3]

NParks Singapore juga menjelaskan bahwa Calophyllum berasal dari bahasa Yunani dan berarti “beautiful leaf”, sementara inophyllum merujuk pada karakteristik urat daun yang rapat. [4]

Nama tersebut cukup menggambarkan salah satu ciri khas tanaman ini: daunnya yang hijau, mengilap, dan memiliki pola urat yang sangat teratur.

Tamanu, Nyamplung, atau Calophyllum inophyllum: Mana yang Sebaiknya Digunakan?

Ketiga istilah tersebut dapat digunakan untuk tujuan komunikasi yang berbeda.

Tamanu

Tamanu memiliki nilai komunikasi internasional karena digunakan sebagai nama umum di sejumlah wilayah Pasifik dan juga banyak muncul dalam literatur mengenai minyak dari Calophyllum inophyllum. [5]

Untuk komunikasi kepada konsumen internasional, istilah ini dapat membantu menghubungkan produk dengan nama bahan yang sudah dikenal dalam konteks tertentu.

Nyamplung

Nyamplung memberikan identitas yang lebih kuat terhadap asal-usul Indonesia.

Istilah ini terdokumentasi sebagai nama lokal Calophyllum inophyllum di Indonesia, khususnya Jawa. [2]

Penggunaan kata “Nyamplung” dapat menjadi bagian dari storytelling mengenai kekayaan flora dan sumber daya alam Indonesia.

Calophyllum inophyllum

Sementara itu, Calophyllum inophyllum memberikan ketepatan ilmiah.

Nama ini memungkinkan pembaca, peneliti, formulator, maupun pelaku industri untuk mengetahui secara spesifik spesies tanaman yang dimaksud.

Karena itu, ketiga istilah tersebut dapat digunakan secara berdampingan.

Contohnya:

VERDAIA
Tamanu Oil — Nyamplung (Calophyllum inophyllum)
Warisan Alam Indonesia untuk Perawatan Kulit

Dengan pendekatan tersebut, nama internasional, identitas lokal Indonesia, dan nama ilmiah dapat saling melengkapi.

Dari Nyamplung Indonesia ke Pasar Global

Calophyllum inophyllum bukan tanaman yang hanya ditemukan di satu wilayah.

Menurut Kew, persebaran alami spesies ini membentang dari Afrika Timur dan kawasan Samudra Hindia hingga Asia tropis dan subtropis serta Pasifik. [1]

CIFOR juga menggambarkan Calophyllum inophyllum sebagai spesies pohon pantropis yang ditemukan di puluhan negara dari Afrika Timur hingga Asia Tenggara, Oseania, dan Pasifik Selatan. CIFOR menyebut tanaman ini juga dikenal sebagai nyamplung maupun tamanu tree dan memiliki kemampuan beradaptasi pada wilayah pesisir serta hutan dataran rendah. [6]

Di Indonesia, nyamplung merupakan bagian dari flora lokal yang memiliki sejarah pemanfaatan dan potensi ekonomi.

Karena itu, penggunaan nama Nyamplung dan Tamanu secara berdampingan dapat menjadi bagian dari cerita VERDAIA: memperkenalkan nama lokal Indonesia sekaligus menggunakan istilah yang dapat dikenali dalam konteks internasional.

Namun, penggunaan nama tersebut tetap sebaiknya disertai nama ilmiah Calophyllum inophyllum agar identitas bahan tetap jelas dan tidak menimbulkan ambiguitas.

Pada akhirnya, Tamanu, Nyamplung, dan Calophyllum inophyllum merujuk pada spesies tanaman yang sama, meskipun setiap nama memiliki konteks geografis, bahasa, dan komunikasi yang berbeda. [1][2][5]

Bagi VERDAIA, cerita tersebut dapat menjadi jembatan antara kekayaan alam Indonesia dan pasar global—dengan mengangkat nama lokal Nyamplung, menggunakan istilah Tamanu dalam konteks internasional, dan tetap mempertahankan ketepatan ilmiah melalui nama Calophyllum inophyllum.



Catatan Kaki / Footnotes

[1] Royal Botanic Gardens, Kew. Calophyllum inophyllum L. Plants of the World Online. Kew mencatat spesies ini sebagai accepted species dan memberikan informasi mengenai taksonomi serta persebaran alaminya.

[2] PROSEA. Calophyllum inophyllum L. Plant Resources of South-East Asia. Sumber ini mencatat nama lokal seperti nyamplung di Jawa, dingkaran di Sulawesi, bintangor laut dan penaga di Malaysia, serta beach calophyllum di Papua Nugini.

[3] Food and Agriculture Organization of the United Nations. Mangrove Guidebook for Southeast Asia: Calophyllum inophyllum L. FAO mencatat nama lokal dan menjelaskan karakteristik daun serta hubungan nama Calophyllum dengan istilah “beautiful leaf.”

[4] National Parks Board Singapore. Calophyllum inophyllum. NParks mencatat berbagai nama umum, termasuk Penaga Laut, Bintangor Laut, Alexandrian Laurel, Indian Laurel, Beauty Leaf, dan Nyamplung, serta menjelaskan etimologi Calophyllum.

[5] Jahirul, M. I., et al. Artikel mengenai minyak Calophyllum inophyllum mencantumkan berbagai nama regional spesies ini, termasuk Tamanu di Cook Islands dan Society Islands serta Tahiti, Dilo di Fiji, Fetau di Samoa, dan Kamani di Hawaii.

[6] Center for International Forestry Research (CIFOR). Calophyllum inophyllum (pohon Tamanu). CIFOR menjelaskan persebaran pantropis, nama nyamplung/tamanu, serta adaptasinya terhadap wilayah pesisir dan dataran rendah.


Daftar Pustaka — APA 7th Edition

Center for International Forestry Research. (n.d.). Calophyllum inophyllum (pohon Tamanu). CIFOR.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (n.d.). Mangrove guidebook for Southeast Asia: Calophyllum inophyllum L. FAO.

Jahirul, M. I., et al. (2017). Prospects, feedstocks and challenges of biodiesel production from beauty leaf oil and castor oil: A nonedible oil sources in Australia. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 78, 148–162.

National Parks Board Singapore. (n.d.). Calophyllum inophyllum. Flora & Fauna Web.

PROSEA. (n.d.). Calophyllum inophyllum L. Plant Resources of South-East Asia.

Royal Botanic Gardens, Kew. (n.d.). Calophyllum inophyllum L. Plants of the World Online.


Works Cited — MLA 9th Edition

Center for International Forestry Research. “Calophyllum inophyllum (Pohon Tamanu).” CIFOR, www.cifor.org. Accessed 7 Sept. 2026.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. “Calophyllum inophyllum L.” Mangrove Guidebook for Southeast Asia, FAO, www.fao.org. Accessed 7 Sept. 2026.

Jahirul, M. I., et al. “Prospects, Feedstocks and Challenges of Biodiesel Production from Beauty Leaf Oil and Castor Oil: A Nonedible Oil Sources in Australia.” Renewable and Sustainable Energy Reviews, vol. 78, 2017, pp. 148–162.

National Parks Board Singapore. “Calophyllum inophyllum.” Flora & Fauna Web, National Parks Board Singapore. Accessed 7 Sept. 2026.

PROSEA. “Calophyllum inophyllum L.” Plant Resources of South-East Asia. Accessed 7 Sept. 2026.

Royal Botanic Gardens, Kew. “Calophyllum inophyllum L.” Plants of the World Online, Royal Botanic Gardens, Kew. Accessed 7 Sept. 2026.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top