Author name: Marisa Choiriyah
Apa itu Reactive Oxygen Species (ROS)?
Kulit kita setiap hari menghadapi berbagai faktor lingkungan, termasuk paparan sinar ultraviolet (UV) dan polusi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) di dalam kulit.
ROS adalah molekul yang sangat mudah bereaksi dengan bagian lain dari sel. Dalam jumlah kecil, ROS sebenarnya terbentuk secara alami dan merupakan bagian dari proses normal tubuh. Namun, jika jumlahnya terlalu banyak, ROS dapat memicu berbagai reaksi yang merusak komponen sel.
Ketika jumlah ROS lebih tinggi daripada kemampuan tubuh untuk mengendalikannya, terjadilah oxidative stress (stres oksidatif). Kondisi ini dapat berkontribusi terhadap kerusakan komponen sel kulit dan proses penuaan kulit. Karena itu, sistem antioksidan menjadi salah satu bagian penting dari mekanisme perlindungan kulit.
[1][2]
Apa Itu Antioksidan?

Secara sederhana, antioksidan adalah senyawa yang dapat membantu mengendalikan reaksi oksidatif tertentu.
Tubuh sebenarnya memiliki sistem antioksidan alami, tetapi kulit juga terus berhadapan dengan berbagai tekanan dari lingkungan. Inilah salah satu alasan mengapa senyawa antioksidan banyak diteliti dalam bidang perawatan kulit.
Dan salah satu bahan alami yang menarik perhatian peneliti adalah Tamanu Oil.
Tamanu Oil berasal dari biji Calophyllum inophyllum L., tanaman yang dikenal sebagai nyamplung di Indonesia.
Tamanu Oil sebagai Sumber Antioksidan
Apakah Tamanu Oil benar-benar memiliki aktivitas antioksidan?
Salah satu penelitian yang secara langsung menguji minyak biji nyamplung (Calophyllum inophyllum) dilakukan oleh Safrina, Wardiyah, dan Murtini.
Para peneliti menggunakan metode DPPH, yaitu salah satu metode laboratorium yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu bahan dalam menangkal radikal bebas.
Hasilnya, minyak biji nyamplung menunjukkan nilai:
IC₅₀ = 3,18 µg/mL
Dalam penelitian yang sama, vitamin C digunakan sebagai pembanding dan memiliki nilai IC₅₀ sebesar 0,99 µg/mL. [3]
Apa arti angka tersebut?
IC₅₀ menunjukkan konsentrasi yang dibutuhkan suatu sampel untuk menghasilkan sekitar 50% penghambatan dalam sistem pengujian.
Secara sederhana, semakin rendah nilai IC₅₀, semakin kuat aktivitas yang ditunjukkan dalam kondisi pengujian tersebut.
Jadi, penelitian ini menunjukkan bahwa minyak biji nyamplung memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dalam uji DPPH.
Namun, hasil tersebut tidak berarti Tamanu Oil “sama dengan” vitamin C. Dalam penelitian tersebut, vitamin C memiliki nilai IC₅₀ yang lebih rendah sehingga aktivitasnya lebih kuat pada kondisi pengujian.
Bagaimana Peneliti Menguji Tamanu Oil sebagai Anti Oksidan?
DPPH merupakan senyawa radikal berwarna ungu.
Ketika bereaksi dengan senyawa yang memiliki kemampuan menangkal radikal, warna tersebut dapat berubah. Perubahan warna kemudian diukur menggunakan spektrofotometer.
Sederhananya:
Sampel + DPPH → perubahan warna → diukur → aktivitas antioksidan dihitung.
Metode ini memungkinkan peneliti mendapatkan angka yang dapat digunakan untuk menggambarkan aktivitas antioksidan suatu sampel.
Penelitian lain terhadap berbagai essential oil dari Calophyllum inophyllum juga menemukan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dan hydrogen peroxide (H₂O₂). [4]
Artinya, aktivitas antioksidan pada C. inophyllum tidak hanya diamati menggunakan satu pendekatan penelitian.
Mengapa Penelitian tentang Tamanu Oil sebagai Anti Oksidan Menarik untuk Skincare?
Penelitian mengenai kulit menunjukkan bahwa oxidative stress merupakan salah satu faktor yang berperan dalam proses penuaan kulit, terutama ketika kulit terus terpapar faktor lingkungan seperti UV. [1][2]
Karena itu, bahan yang memiliki aktivitas antioksidan menjadi menarik untuk dipelajari sebagai bagian dari perawatan kulit.
Dan penelitian terhadap Tamanu Oil memberikan dasar ilmiah untuk ketertarikan tersebut.
Tamanu Oil dari Calophyllum inophyllum telah menunjukkan aktivitas antioksidan dalam pengujian laboratorium.
Alam Memberikan Potensi, Sains Membantu Membuktikannya
Tamanu Oil menarik bukan hanya karena berasal dari tanaman, tetapi karena potensinya telah mulai dipelajari menggunakan metode ilmiah.
Penelitian terhadap minyak biji Calophyllum inophyllum menunjukkan aktivitas antioksidan dalam uji DPPH, sementara penelitian lain juga menemukan aktivitas antioksidan pada berbagai essential oil dari tanaman yang sama. [3][4]
Jadi, ketika kita berbicara tentang Tamanu Oil sebagai sumber antioksidan, kita tidak hanya berbicara tentang klaim pemasaran.
Ada penelitian laboratorium yang mendukungnya.
Dan bagi sebuah bahan alami, mungkin inilah bagian paling menarik:
Ketika pengetahuan tentang alam mulai bertemu dengan bukti ilmiah.
Referensi
[1] Rinnerthaler, M., Bischof, J., Streubel, M. K., Trost, A., & Richter, K. (2015). Oxidative stress in aging human skin. Biomolecules, 5(2), 545–589.
DOI: 10.3390/biom5020545
PubMed – Oxidative Stress in Aging Human Skin
[2] Qadir, E. E. (2025). Role of antioxidants in skin aging and the molecular mechanism of ROS: A comprehensive review. Aspects of Molecular Medicine, 5, 100063.
DOI: 10.1016/j.amolm.2025.100063
ScienceDirect – Role of Antioxidants in Skin Aging
[3] Safrina, U., Wardiyah, & Murtini, G. (2020). Phytochemical screening and antioxidant activity of nyamplung seed oils (Calophyllum inophyllum L.). SANITAS: Jurnal Teknologi dan Seni Kesehatan, 11(2), 256–268.
DOI: 10.36525/sanitas.2020.24
Original Research Article / PDF
[4] Ojah, E. O., Moronkola, D. O., & Osamudiamen, P. M. (2020). Antioxidant assessment of characterised essential oils from Calophyllum inophyllum Linn using DPPH and hydrogen peroxide methods. Journal of Medicinal Plants for Economic Development, 4(1), a83.
DOI: 10.4102/jomped.v4i1.83
Original Journal Article

